Oleh : Ustadz Salim dengan beberapa editasi semau penulis
Kesendirian. Itulah perasaan yang teramat sering menghinggapi para aktivis dakwah. Penyakit sangat berbahaya yang biasanya mendera para tetua/ mas’ul dakwah atau pun pimpro acara. Biasanya karena ada amanah tertentu yang dirasanya terlalu berat sehingga seolah-olah[1] ada ketimpangan amanah. Amanah yang tidak proporsional. Seolah-olah inilah yang disebut sebagai perasaan, bukan fakta atau kenyataan sebenarnya. Perasaan inilah yang lebih berbahaya daripada kondisi kesendirian yang sesungguhnya. Bukankah teknologi komunikasi kita sekarang sudah maju? Ada hape satelit, ada internet, ada sandi morse bahkan semaphora.[2] Mengapa juga kita tidak lantas mencoba untuk menghubungi mereka dan meminta bantuan di saat kita mengalami kesulitan amanah jamaah seperti bantuan tenaga/ sumber daya manusia? Permasalahan remeh sebenarnya. Jangan sampai ada purbasangka-purbasangka alai, “k4y4kNya mereK4 La9i sIbUk decH, aTao l4inNya aPaLah”. Jadi kita urung untuk menggangu “kesibukan dan hajat hidup mereka”. Langsung di-tabayun-kan sajalah apakah orang-orang yang notabene adalah teman seperjuangan dakwah yang kita hubungi ini tadi bisa kita sharejob-kan atao tidak. Allahu ma ‘ana.
Dan resume kali ini membahas tentang pola interaksi. Dengan sub judul vmj, hubungan kultural ikhwan-akhwat, dan peluang-peluang setan di dalam menciptakan fitnatunissa atau fitantunikhwan. Karena, entah kenapa tema ini selalu saja jadi bahan obrolan menarik di dalam forum arisan pekanan/ pesta rutinnya orang-orang yang beriman. Walau pun susah dan jadi greget untuk membuka pembicaraan dan memulai darimana harus ber-qhadaya dan ber-rowai atas masalah ini.[3] Tapi, rasa malu itu sebenarnya harus dihilangkan. Bukankah di episode yang pertama kita sudah sepakat untuk mulai percaya, membuka hati, dan membuka diri agar mencurahkan mayoritas rahasia penting kita kepada forum ini? Dengan tujuan ada yang mem-back up/ mengarahkan kita ketika bingung dan linglung dalam bersikap. Terutama salah dalam menghadapi problematika pubertas/ hormonal jatuh cinta. “Keluarga” inilah yang akan menjelaskan kepada kita mana yang baik dan mana yang keliru. Mana yang benar dan mana yang salah. Merekalah malaikat maujud manusia bagi kita, ayah bagi kita, kaka dan adik bagi kita, keluarga kita.
-----
Ingat! Merasa sendiri itu menandakan akan ukhuwah yang merapuh !!! Salah satu hadis berbunyi seperti ini, “Setan itu hanya akan melawan jamaah yang dalam kondisi munfarid. Seperti serigala yang hanya akan berani mencari domba-domba yang sendirian”. Masih ingat kan cerita sahabat yang uzurnya tidak diterima karena mangkir dari peperangan? Afwan saya lupa namanya, Amr bin Ash apa ya?[4] Padahal dia adalah si pemilik lidah emas yang digadang-gadang sebagai orang yang teralu cerdas menjadi mukmin, duta konsulat yang diandalkan Rasulullah dalam berdakwah memnita raja-raja untuk memberi swaka ketika hijrah atau pun memberi risalah untuk masuk Islam dengan baik-baik. Sudah barang tentu dia bisa mencari-cari alasan di depan Rasulullah seperti munafikin sebelumnya yang mangkir dari jihad sabil. Karena dia bisa beretorika dan berdialekika. Tapi, dia memilih untuk tidak mencari alasan. “Saya tidak punya uzur syar’i, ya Rasulullah”. Kontan, oleh sebab itu dia diasingkan Rasulullah selama 40 hari. Sedih sekali rasanya tidak dianggap oleh Rasulullah dan sahabat lainnya. Dan dalam kesendiriannya di sebuah bukit terpencil untuk beruzlah dan memohon taubat dari Allah, dia dilobi oleh musuh Islam untuk berbalik melawan Muhammad dan dakwah Islam. Diiming-imingi keduniawian, gelar, jabatan, dan wanita. Karena sejatinya dia sekarang useless di mata Rasulullah, dia tercampakkan. Untunglah, Amr sadar dan kembali pada Allah dalam perasingannya. Dan Allah lantas menerima taubatnya. Rasulullah memerintahkan dia untuk kembali lagi di barisan jihad dan dakwah.
Inilah bahayanya perasaan kesendirian. Jiwa yang merasa sendiri pasti akan terpanggil-panggil pada sesuatu yang lebih berbahaya lagi. Atau setan yang memanggil-manggil. Perasaan untuk mendapatkan teman pendukung yang bisa mengerti. Perasaan untuk berbagi. Serta perasaan untuk bermain ‘perasaan’. Hati-hatilah jika sudah sampai di sini. Di sinilah setan menggoda aktivis dakwah untuk masuk ke dalam pusaran badai merah jambu melalui aktivitas-aktivitas dunia maya yang warga dunia entah mengapa menyebutnya sebagai facebook, Ym, BBM, dan apa pun untuk sekedar mencari penghibur diri dan teman ngobrol. Yang muaranya adalah curhat. Nah, biasanya itu, teman ngobrol yang enak adalah lawan jenis. Akhwat pada ikhwan, dan sebaliknya. Psikologisnya bilang seperti itu.[5]
-----
Bicara mengenai virus merah jambu, biasanya yang muncul pada gambaran pertama bagi ikhwan adalah akhwat incaran pilihannya (nb : berlaku pula sebaliknya). Naluri hormonal dan nurani fitrah akan sepakat dan mufakat bilang jika akhwat paling ideal adalah dia, dia, dan masih dia, akan selalu dia sebelum ada penggantinya yang lebih baik ilmu agamanya dan parasnya. Jadi, si ikhwan akan melakukan yang namanya ‘hubungan potensial’ untuk ‘mencicil’ masa depannya. Kalo hubungan potensial itu tidak cepat diamankan, akan timbul perasaan 3G[6] dan 3 Au[7] yang berkata kalau-kalau akhwat itu direbut oleh ikhwan yang lain. Inilah jalan pintas yang dilakukan ikhwan dalam mempersiapkan jodoh. Paling tidak, si ikhwan sudah mendapatkan hati tersendiri lah di hati akhwat itu (nb : berlaku pula sebaliknya). Inilah yang dihembuskan was-was syetan. Ini memang pemikiran benar dari satu sisi tapi juga gak benar dari semua sisi yang lain. Akhwat juga sama, gak ada ubahnya. Setali tiga uang. Ada juga cerita yang disampaikan Ustad Salim dalam kajiannya saat itu, yang mana akhwat itu langsung ‘menantang’ ikhwan karena si ikhwan tidak peka dalam membaca sinyalemen-sinyalemen perasaan. “Akhi,sudah tiga tahun lebih saya mendampingi antum sebagai wakil/ sekjend di organisasi dakwah ini. Saya tidak dapat mengelak dari perasaan-perasaan ini. Terus terang, kalau memang engkau ingin menikah, saya siap menjadi Khadijahmu. Tapi kalau memang engkau tidak memilihku, saya ridho engkau menikah dengan wanita pilihanmu yang lain”.
-----
Janganlah begitu. Tidak usahlah seperti itu. Jodoh kita, dan semua rejeki kita semua sudah terdokumentasi rapi dalam megaserver Lauful Mahfuz[8]. Kita pun tak perlu khawatir berlebihan akan masa depan. Jika kita tidak jadi menikah dengan dia, berarti dia memang bukan jodoh kita. Tapi jika dia sudah bercerai dengan suaminya dan ada kesempatan untuk menikahinya setelah iddah selesai, berarti, dia memang jodoh kita.[9] Gampang kan untuk menjawab takdir jodoh dan juga takdir yang lain? Karena konsep takdir itu sederhana. Seperti rejeki uang, jika kita punya tabungan 20 juta untuk menikah di rekening bank, tapi kita keburu meninggal. Maka uang tabungan itu bukan rejeki kita. Namun rejekinya anak, istri, ortu, atau keluarga yang kita warisi.
Cantik itu relatif. Benar-benar relatif. Secantik apa pun akhwat yang digadang-gadang sebagai jelmaan cerminan Bunda Aisyah si “Penceria Hati Masa Kini” (nb : berlaku juga sebaliknya untuk akhwat), kalo dia punya utang uang besar sama kita, dan dia gak ngembalikin utangnya, dia jadi gak cantik. Kalo dia pernah ingusan pas pilek, terus mengelap umbelnya dengan ujung jilbab dengan santainya di depan kita, dia jadi gak cantik. Apalagi ada akhwat yang mbalang watu ke muka kita karena kita dikira Dongja atau Hachiko (anjing Asia Timur yang imut tralala yang terkenal itu), kita akan sakit hati dan benci pada akhwat itu. Kita gak akan pernah mau untuk milih tuh akhwat. Lihat diri kita. Tanpa ada manipulasi atau yang ditutup-tutupi. Kita sejujurnya hanya mencintai orang yang gak pernah punya masalah elementer/ prinsipil dan nonprinsipil dengan kita. Sekali lagi. Hanya akhwat yang gak pernah punya masalah serius/ akut dengan kita.
Padahal, akhwat yang bersih dan valid tidak punya masalah dengan kita itu banyak. Jadi tenang aja. Tenangkan hati dengan mengingat Allah. Kata Ustad dan sekaligus Ulama, Hasan Al Basrhi, perbanyak istighfar!!! Sebut nama Allah banyak-banyak dan minta ampunan-Nya. Karena kalimat istighfar itu obat dan psikolog bagi semua masalah. Dari minta jodoh, rejeki seret, dan belum punya anak/ momongan.
-----
Perlu diingat juga, hal nonverbal itu membuat lebih mudah diingat daripada verbal/ pertemuan tatap muka lho. Hubungan kultural/ kecairan melalui sms kadang membuat orang menjadi ‘gila’ karena salah faham dalam menafsirkan. Sebagai contoh ada akhwat yang kegandrungan dan ketagihan meminta sms hikmah dari ikhwan yang dikagumi dengan sms bahasa pancingan: “Akh, maaf ‘telaganya’ sedang kering nich (pake c, biar kesannya agak-agak gimana gitu mbaca smsnya), butuh ’air’ siraman darimu hari ini”. Subhanallah, Maha Suci Allah dari hal seperti ini. Semoga kita (nb : terutama akhwat) tidak kedapatan seperti oknum-oknum seperti ini. Ckckck.[10]
Lebih gawat lagi si oknum ikhwan. Ada saja sms dari akhwat yang disalah artikan. Biasanya akhwat kalo sms pake emoticons-emoticons genit. Contoh sms : “Terimakasih Pak : )”. Eh, si ikhwan menganggap itu adalah senyuman termanis si akhwat. Padahal itu bukan senyum. Itu hanyalah titik dua sama kurung tutup dab! Parah kan kalo tanda titik dua dan tanda kurung tutup tadi masih ditambahi koma, bisa dianggap kegenitan lirikan dan kerlingan mata si akhwat spesial untuk si ikhwan. Lebih parah lagi kalo pake gambar lidah menjulur. Ada-ada saja tingkah aneh-aneh dari kita. Dasar kelakuan. Semoga kita (nb : terutama ikhwan) tidak kedapatan seperti oknum-oknum seperti ini. Jadi, pesan morilnya, hati-hati pake emoticons dan nulis sms. *-)
Nah, terus bagaimana dengan akhwati yang pulang larut melewati jam batas malam?[11] Terus sampai-sampai dia diantarkan oleh rekan dakwahnya yang ikhwan? Sulit untuk membenarkan hal ini. Apalagi jika hal ini terjadi intens alias berulang-ulang. Kalau satu tahun sekali gak masalah, tapi kalo seminggu atau dwiminggu sekali? Ini masalah luar biasa yang dianggap jadi biasa. Bukankah jam bermain/ berdakwah akhwat di luar rumah tanpa mahram adalah sampai maghrib? Tapi dengan alasan yang dibungkus dengan apik dan manis sekali untuk didengar dan dimaklumi, kita memberikan peluang munculnya fitnah. Yakni “Demi dakwah gak papa pulang malam. Ini pengorbanan untuk Allah”. Ikhwan ikut-ikutan, “Gak tega e liat akhwat pulang malam-malam, jadi gua anterin sekalian ah, biar tuh akhwat gak kenapa-kenapa.” Justru itu yang kenapa-kenapa. Itu poin awal masalahnya. Kejahatan malam yang terjadi di sini itu bukanlah perampokan sadis terhadap akhwat oleh penjahat preman pasar Tanah Abang. Atau dedemit yang sering nakut-nakuti di jalan gelap gulita. Tapi fitnah karena si skhwat telah melakukan khalwat dengan ikhwan tadi. Bukankah ketika dua orang berkhalwat maka pihak ketiganya adalah setan? Mengapa kita malah berakrab dan berkonco khentel dengan setan? Padahal setan adalah musuh yang nyata bagi kita semua toh? Musuh anak cucu dan keturunan kita sampai kiamat. Semoga kita berhati-hati dengan kejahatan malam, setan yang membuka fitnah, dan penyihir yang menancapkan buhul-buhul teluhnya. Wallahu alam.
[1] Entah kenapa Ustad Salim sering menggunakan kata : “seolah-olah”, terus ditambah dengan kata : “Ya iyalah”. Jadi gaul banget nih ustad yang satu ini. Mbois tenan.
[2] Sandi morse dan semaphora? Emang lagi nyasar di hutan?
[3] Sulit menentukan masalah ini sebagai qodhoya atao rowa’i. Kalo berita cinta ini berujung menjadi pernikahan, berarti qodhoya. Tapi kalo berupa fitnah berarti rowa’i.
[4] Afwan, gak sempet ngecek di buku jalan cinta para pejuang. Gak kebawa di Halmahera.
[5] Versi fakta saya pribadi, gak tahu apakah bisa digeneralisasi pada fakta ikhwan yang lain/ gak. Ustad Salim gak menyampaikan ini dalam risalah kutbah tutorialnya kepada saya.
[6] Galau, gundah, dan gulana
[7] Kacau, balau, dan galau
[8] Meminjam istilahnya dek Oki Setiana Dewi pada saat menenangkan hatinya Husna di saat wafat sabilnya Bune pasca kecelakaan.
[9] Kita? Emang Si Nurlele yang jadi rebutan Akbar dll dalam drama Betawi Calon Bini?
[10] ikut fashionistanya cecak ketika menyindir umat manusia
[11] Gak tahu juga sih, siapa yang membuat konsensus jam batas malam ini

